Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyampaikan keyakinannya bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hanya bersifat sementara. Optimisme tersebut muncul setelah berakhirnya krisis anggaran atau government shutdown di AS yang sebelumnya menekan sentimen pasar global.
BI menilai, tekanan terhadap rupiah masih disebabkan oleh gejolak ekonomi internasional. Meski demikian, otoritas moneter tersebut menegaskan tetap aktif menjaga kestabilan mata uang nasional melalui berbagai instrumen kebijakan. Intervensi dilakukan secara terukur di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Sejalan dengan langkah stabilisasi tersebut, BI meyakini nilai tukar rupiah akan berangsur pulih. Bank sentral menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tercermin dari prospek pertumbuhan yang positif, inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan pasar SBN yang tetap menarik bagi investor.
Kondisi ekonomi domestik yang solid diharapkan mampu menjadi penopang utama rupiah di tengah ketidakpastian global. BI juga optimistis, stabilitas ekonomi nasional yang terjaga akan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis siang (13/11), rupiah tercatat melemah tipis sebesar 22 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp16.739 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di sisi lain, pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani Undang-Undang Anggaran yang mengakhiri government shutdown terpanjang dalam sejarah AS. Krisis selama 43 hari itu sempat mengganggu sejumlah layanan publik, termasuk penundaan penerbangan dan tertundanya pembayaran gaji pegawai federal.*
