Badung, Bali – Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai mendeportasi tiga warga negara Irak yang terdiri dari pasangan suami istri beserta seorang anak balita. Tindakan tersebut dilakukan setelah petugas memastikan bahwa dokumen perjalanan yang mereka gunakan merupakan paspor Belgia palsu.
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, menyampaikan bahwa kepalsuan paspor itu terungkap setelah dilakukan pemeriksaan mendalam melalui laboratorium forensik keimigrasian. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dokumen perjalanan yang digunakan ketiganya tidak sah.
Kecurigaan petugas bermula saat ketiga orang tersebut tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada Sabtu (28/2) sekitar pukul 21.50 WITA. Mereka diketahui datang menggunakan penerbangan Emirates Airlines EK-368 dengan rute Dubai–Denpasar.
Setelah tim imigrasi menemukan sejumlah kejanggalan pada profil dan dokumen perjalanan mereka, ketiganya langsung diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Mereka kemudian ditempatkan di ruang detensi Kantor Imigrasi di Jimbaran, Kabupaten Badung.
Dari hasil pemeriksaan, para warga negara Irak tersebut mengakui sengaja menggunakan paspor Belgia palsu agar dapat bepergian ke berbagai negara, khususnya di kawasan Eropa. Mereka menyebut keterbatasan akses perjalanan bagi pemegang paspor Irak menjadi alasan penggunaan dokumen palsu tersebut.
Meski menggunakan dokumen palsu, pihak imigrasi memastikan bahwa berdasarkan penelusuran melalui sistem pusat data keimigrasian serta jaringan keamanan internasional, identitas ketiganya tidak tercatat dalam daftar pencekalan maupun daftar pencarian Interpol.
Setelah menjalani masa detensi selama tiga hari dan menyelesaikan seluruh proses administrasi serta pengaturan biaya pemulangan, ketiganya akhirnya dipulangkan dari Indonesia melalui Bandara Ngurah Rai dengan tujuan Kuala Lumpur.
Pihak imigrasi menegaskan akan terus memperketat pengawasan terhadap kedatangan warga negara asing. Penggunaan dokumen perjalanan palsu dinilai menjadi salah satu modus yang perlu diwaspadai, terutama di tengah situasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong perpindahan warga ke negara lain yang dianggap lebih aman.*
